Rabu, 14 Desember 2011


Mistik Bugis : Legenda Poppo’ dan Parakang

Poppo’ atau ada juga yang menyebutnya Peppo’ menurut kepercayaan orang di tanah bugis adalah sejenis siluman perempuan yang bisa terbang. Ada sebuah kisah tentang poppo yang konon pernah terjadi di sebuah kampung. Suatu hari, Puang Imang bersama semua keluarganya meninggalkan rumahnya karena seorang keluarganya mengadakan pesta pernikahan di daerah lain. Malam harinya, rumah Puang Imang dimasuki oleh poppo yang, sekali lagi, konon ingin mencuri. Setelah barang-barang yang mau dibawa pergi telah dibungkus dengan sarung, poppo itu tak bisa keluar dari rumah Puang Imang. Katanya, menurut pengakuan poppo itu, ia melihat dirinya dikepung air—seperti laut yang tak memiliki pantai.
Setelah Puang Imang kembali, ia menemukan poppo telah berubah wujud menjadi seorang perempuan cantik berambut panjang telanjang berdiri di ruang tengah rumahnya. Ternyata rumah Puang Imang, sebelum ditinggalkan, telah disappo (dipagari) dengan baca-baca (mantera) sehingga poppo itu tak bisa keluar. Poppo itu kemudian diberi sehelai pakaian oleh istri Puang Imang dan dibiarkan pergi. Namun sebelumnya untuk membuat perempuan itu jera, rambut panjangnya dipotong nyaris habis.
Poppo menurut kepercayaan orang bugis selain dikenal sebagai hantu pencuri juga suka mengisap darah, utamanya perempuan yang sedang melahirkan. Poppo dipercaya juga suka berada di kebun jagung atau kebun di mana banyak buah-buahan. Kesukaan poppo berada di pohon yang berbuah itu kadang digunakan oleh orang (yang berani) di musim mangga berbuah. Poppo yang ‘hinggap’ di cabang pohon mangga akan menjatuhkan buah-buah mangga matang sesuai permintaan sang pemilik.
Tentang parakang, selain suka mengisap anus orang sakit ada beberapa hal menarik lainnya. Jika seorang parakang sedang sekarat menghadapi sakratul maut, ia akan tarus mengulang-ulang kata (l)emba (pindah) sampai ada seorang dari keluarganya yang mengiyakannya. Setelah itu, orang yang mengiyakan itu akan menjadi parakang selanjutnya. Jika menemukan parakang, misalnya dengan wujud pohon pisang, orang dianjurkan untuk memukulnya sekali atau tiga kali saja. Jika sekali pukul dipercaya akan membunuhnya dan tiga kali akan membuatnya cacat. Itulah mengapa perempuan tetangga saya yang pindah itu dianggap parakang karena berjalan seperti orang dengan lutut kesakitan. Menurut orang-orang, suatu malam, perempuan itu tertangkap basah berwujud kambing dan dipukul dengan potongan kayu dilututnya sebanyak tiga kali. Sejak saat itulah ia berjalan dengan cara yang aneh. Dua hantu itu, parakang dan poppo adalah hantu paling populer di kampung kami. Saking populernya sewaktu saya masih anak-anak Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau P4 kami plesetkan menjadi poppo, parakang pakkanre pello (poppo, parakang pemakan rektum).
Poppo dan Parakang bagi orang bugis dipercayai adalah semacam hukuman turun temurun akibat  kesalahan atau pelanggaran nenek moyangnya sehubungan dengan ilmu hitam yang dipelajarinya di masa lampau.
Oleh : Romi Kedai
(kampung bugis)

pohon itu !?

tiga hari kemarin aq mengalami pengalaman yang menurutq tidak masuk di akal,namun akan aku ceritakan pengalamanq ini,perkenlkan namaq sony,aq kelas XI sebuah sekolah negeri di Barru,sulawesi selatan.
pagi itu seperti biasa aq berangkat ke sekolah setiap jam 7 pagi menggunakan motor bututq,namun pagi itu aq merasa aneh oleh seorang ibu-ibu muda kira-kira rnya29 tahun umu yang langsung melintas di hadapanku dan berhenti tiba-tiba disampingku,lalu dia berkata "hati-hati saat lewat di situ"tangannya menunjuk sebuah pohon besar kedongdong yag cukup besar,pohon itu kira-kira baru berusia 7-tahunan,tak kurasa ibu itu lenyap di sampingq,lenyap tanpa bekas,ku tarik kembali gas motorku danmenuju ke sekolah,sesampainya di sekolah aku masuk ke perpustakaan membaca koran,dan terkejutnya aq saat melihat foto yang terpampang di koran itu adalah orang yang menemuiku tadi pagi yang menegurq(bersambung ke post 2)

Sejarah Kucing
Gambar fosil kucing purba.
Pada masa silam nenek moyang kucing adalah Miacis, binatang liar pada masa Eosen yang sosoknya mirip musang, 50 juta tahun silam.

Bulan Agustus 2008 tim peneliti kandungan minyak Venezuela berhasil menemukan fosil kucing raksasa bertaring tajam di wilayah tenggara Caracas. "Ini merupakan temuan paling penting di Amerika Selatan selama kurun waktu 60 tahun," ujar paleontologis dari Institut Sains Venezuela Ascanio Rincon.

Fosil-fosil tersebut ditemukan bersama beberapa fosil hewan lainnya seperti harimau kumbang, serigala, onta, burung gagak, bebek dan kuda. Semua hewan tersebut hidup pada 1,8 juta tahun lalu. Para tim menemukan fosil tersebut secara tidak sengaja saat mereka sedang mencari kemungkinan kandungan energi minyak di pusat wilayah Monages.

Penemuan yang paling penting adalah rangka tengkorak yang masih lengkap dari kucing raksasa zaman purba, yang dinamakan Homotherium. Kucing raksasa tersebut memiliki taring tajam berukuran lebih kecil dari harimau dan tubuh yang mirip dengan Hyena, yang pernah hidup di wilayah Afrika, Eurasia dan Amerika Utara antara lima juta hingga 10 ribu tahun lalu. Hewan ini mengalami kepunahan pada 500 ribu tahun lalu.

Gambar prasasti kucing
pada kebudayaan Mesir kuno.
Catatan paling awal tentang usaha domestikasi (penjinakan) kucing adalah sekitar tahun 4000 SM di Mesir, ketika kucing digunakan untuk menjaga toko bahan pangan dari serangan tikus. Namun, baru-baru ini dalam sebuah makan di Shillourokambos, Siprus, bertahun 7500 SM, ditemukan kerangka kucing yang dikuburkan bersama manusia. Karena tikus bukanlah hewan asli Siprus, hal ini menunjukkan bahwa paling tidak pada saat itu, telah terjadi usaha domestikasi kucing. Kerangka kucing yang ditemukan di Siprus ini mirip dengan spesies kucing liar yang merupakan nenek moyang kucing rumahan saat ini. 
Gambar sebuah topeng perunggu digunakan dalam pemakaman mumi kucing di Mesir kuno.


Pada tahun 1.800-an ditemukan suatu kuburan atau tepatnya "situs" berisikan 300.000 mumi kucing dalam keadaan masih utuh, yang menandakan dahulu kucing memang suatu hewan yang spesial. Orang Mesir kuno menganggap kucing sebagai penjelmaan Dewi Bast, juga dikenal sebagai Bastet atau Thet.Hukuman karena membunuh kucing adalah hukuman mati, dan jika ada kucing yang mati kadang dimumikan seperti halnya manusia.

Pada abad ke 14 populasi kucing di Eropa masih sangat sedikit, sebaliknya populasi tikus meningkat dengan pesat. Dan terjadilah wabah Black Death (semacam pes) yang dibawa tikus pada akhir abad ke-14. Wabah tersebut dengan cepat menyebar ke seluruh Eropa, yang menyebabkan kematian 40 juta penduduk Eropa (1/3 nya) dalam waktu 4 tahun (dari th 1347 – 1351). Pada saat wabah black death ini, tanah lapang dipenuhi dengan mayat-mayat, rumah-rumah, desa-desa dan perkotaan menjadi sunyi dan kosong.

Wabah ini juga menyebar ke Asia dan Afrika, walaupun tidak separah di Eropa. Wabah ini merupakan wabah terburuk dalam sejarah umat manusia.

Wabah ini berangsur berkurang dengan meningkatnya populasi kucing dan menurunnya populasi tikus. Manusia semakin menyadari betapa pentingnya peranan kucing dalam kehidupan manusia.

Dalam ilmu medis, banyak dokter tempo dulu yang menjadikan kucing sebagai terapi medis untuk penyembuhan tulang, melalui dengkuran gelombang suaranya yang setara dengan frekuensi 50 hertz. Dengkuran tersebut menjadi frekuensi optimal dalam menstimulasi pemulihan tulang.

Orang-orang di benua Eropa, Amerika, dan Australia banyak membawa berbagai jenis kucing dari Asia (khususnya Timur Tengah), kemudian mengembangkannya menjadi berbagai ras/jenis.(kucing.biz)
hi,blogger sejati tepat pukul 9.16 pagi blog-q sudah selesai,